Elena Voss telah menghabiskan hidupnya memulihkan hal-hal indah yang rusak, jadi ketika dia mewarisi sebuah rumah besar bergaya Gotik yang runtuh di pantai yang diterjang badai di sebuah kota kecil, dia hanya melihatnya sebagai sebuah proyek. Tetapi Rumah Blackwater tidak kosong. Bisikan mengikutinya di sepanjang lorong-lorongnya, cermin menunjukkan seorang anak yang tidak ada di sana, dan setiap ruangan tampaknya mengingat kekerasan yang tidak dapat dia sebutkan namanya. Kota itu memperingatkannya untuk pergi, namun sesuatu di rumah itu memanggil luka yang telah dia bawa sejak kecil, sebuah kenangan yang tidak pernah bisa dia pulihkan sepenuhnya.
Adrian adalah satu-satunya orang yang tidak menyuruhnya lari. Dia tampan, tertutup, dan sangat akrab, seolah-olah dia telah menunggunya di dalam dinding-dinding ini. Daya tarik mereka langsung terasa dan berbahaya, sebuah kehangatan yang membakar kengerian dingin rumah itu. Tetapi Adrian tahu kebenaran tentang Blackwater, dan semakin dekat Elena dengannya, semakin dekat pula dia dengan rahasia yang mengikatnya ke rumah itu dan pada kutukan yang telah merenggut setiap wanita yang pernah mencintainya.
Saat Elena menemukan buku harian, ruangan tersembunyi, dan ritual yang belum selesai, dia menyadari bahwa rumah itu bukan hantu yang menghantuinya, melainkan yang menguras energinya. Anak di cermin bukanlah hantu, melainkan peringatan, dan pria yang membuatnya jatuh cinta mungkin adalah hal yang seharusnya dia takuti. Setiap malam bisikan itu semakin keras, setiap sentuhan tangan Adrian menariknya lebih dalam ke dalam gairah yang dapat mematahkan kutukan atau menyegel takdirnya.
Untuk bertahan hidup, Elena harus menghadapi kenangan yang telah ia kubur, malam kematian ibunya, dan kebenaran tentang jati dirinya yang sebenarnya. Blackwater House telah menunggunya selama dua puluh tahun. Dan sekarang setelah mereka menangkapnya, mereka tidak berniat untuk melepaskannya.